Jumat, 27 April 2012

ETIKA LINGKUNGAN HIDUP

ETIKA LINGKUNGAN HIDUP

PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Krisis lingkungan hidup yang sering dihadapi manusia pada saat ini merupakan akibat langsung dari pengelolaan lingkungan hidup yang “nir-etik”. Artinya, manusia melakukan pengelolaan sumber-sumber alam hampir tidak peduli pada peran etika. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa krisis ekologis yang dihadapi manusia berakar dari krisis etika atau krisis moral. Manusia kurang peduli pada norma-norma kehidupan atau mengganti norma-norma yang seharusnya ditaati dengan norma-norma ciptaan yang dibuat demi kepentingannya sendiri.
Manusia pada saat ini dalam memperlakukan alam hampir tidak menggunakan hati nurani. Alam begitu saja dieksploitasi dan dicemari tanpa merasa bersalah. Akibatnya terjadi penurunan secara drastis kualitas sumber daya alam sepeti lenyapnyasebagian spesies baik tumbuhan maupun hewan dari muka bumi, yang diikuti pula penurunan kualitas alam. Pencemaran dan kerusakan alam pun akhirnya mencuat sebagai masalah yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari manusia.
Etika lingkungan hidup secara khusus memberi bobot pertimbangan pada kepentingan generasi mendatang dalam membahas masalah lingkungan yang terjadi pada saat ini. Para penganut utilitirianisme, secara khusus memandang generasi yang akan datang dipengaruhi oleh apa yang dilakukan kita sekarang. Apapun yang kita lakukan pada alam akan mempengaruhi mereka.
Pentingnya melestarikan lingkungan hidup untuk masa sekarang hingga masa yang akn datang secara eksplisit menunjukkan bahwa perjuangan manusia untuk menyelamatkan lingkungan hidup harus dilakukan secara berkesinambungan, dengan jaminan estafet antar generasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Etika lingkungan hidup tidak hanya berbicara mengenai perilaku manusia terhadap alam. Etika lingkungan hidup juga berbicara mengenai relasi di antara semua kehidupan alam semesta, yaitu antara manusia dengan manusia yang mempunyai dampak pada alam di antara manusia dengan makhluk hidup lain atau dengan alam secara keseluruhan.

B.     Perumusan Masalah
a.       Apa pengertian dan definisi etika lingkungan hidup ?
b.      Bagaimana paradigma lingkungan hidup ?
c.       Bagaimana prinsip – prinsip etika lingkungan hidup ?
d.      Bagaimana perilaku manusia terhadap linkunan hidup ?

C.    Tujuan
a.      Mengetahui pengertian dan definisi etika lingkungan hidup.
b.      Mengetahui paradigma lingkungan hidup.
c.      Mengetahui prinsip – prisip etika lingkungan hiduphidup.
d.     Menetahui perilaku manusia terhadap lingkungan.


PEMBAHASAN
A.    Pengertian dan Definisi Etika Lingkungan
Etika (Bertens, 1993) berasal dari kata Yunani ethos yang berarti watak kesusilaan atau adat. Etika identik dengan kata moral yang berasal dari kata latin mos, yang dalam bentuk jamaknya mores yang juga berarti adat atau cara hidup. Etika dan moral artinya sama, namun dalam pemakaian sehari-hari ada sedikit perbedaan. Moral atau moralitas dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai, sedangkan etika dipakai untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang ada. Suseno (1987) membedakan ajaran moral dan etika. Ajaran moral adalah ajaran wejangan, khotbah, peraturan lisan atau tulisan tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar menjadi manusia yang baik. Sumber langsung ajaran moral adalah pelbagai orang dalam kedudukan agama, dan tulisan para bijak. Etika merupakan pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran dan pandangan moral.
Keraf (2005) memberikan suatu pengertian tentang etika lingkungan hidup adalah berbagai prinsip moral lingkungan. Etika lingkungan hidup lebih dipahami sebagai sebuah kritik atas etika yang selama ini dianut oleh manusia, yang dibatasi pada komunitas sosial manusia. Etika lingkungan hidup menuntut agar etika dan moralitas tersebut diberlakukan  juga bagi komunitas biotis dan komunitas ekologis.
Etika lingkungan hidup merupakan petunjuk atau arah perilaku praktis manusia dalam mengusahakan terwujudnya moral lingkungan. Dengan etika lingkungan, kita manusia tidak saja mengimbangi hak dan kewajiban terhadap lingkungan, tetapi etika lingkungan hidup juga membatasi perilaku, tingkah laku dan upaya untuk mengendalikan berbagai kegiatan agar tetap berada dalam batas kelentingan lingkungan hidup. Jadi etika lingkungan hidup juga berbicara mengenai relasi di antara semua kehidupan alam semesta, yaitu antara manusia dengan manusia yang mempunyai dampak pada alam dan antara manusia dengan makhluk lain atau dengan alam secara keseluruhan termasuk di dalamnya berbagai kebijakan yang mempunyai dampak langsung atau tidak langsung terhadap alam. Untuk menuju kepada etika lingkungan hidup tersebut, diperlukan pemahaman tentang perubahan  paradigma terhadap lingkungan hidup itu sendiri.

B.     Paradigma Lingkungan Hidup
Paradigma adalah pandangan dasar yang dianut oleh para ahli pada kurun waktu tertentu, yang diakui kebenarannya dan didukung oleh sebagian besar komunitas, serta berpengaruh terhadap perkembangan ilmu dan kehidupan. Harvey dan Holly (1981) mengutip batasan pengertian paradigma yang dikemukakan oleh Kuhn dalam the Structure of Scientific Revolution (1970) yang mengartikan paradigma sebagai “keseluruhan kumpulan (lkonstelasi) kepercayaan-kepercayaan, nilai-nilai, cara-cara (teknik) mempelajari, menjelaskan, cakupan dan sasaran kajian, dan sebagainya yang dianut oleh warga suatu komunitas tertentu”.
1.      Antroposentrisme
Antroposentrisme merupakan suatu etika yang memandang manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta. Di dalam antroposentrisme, etika, nilai dan prinsip moral hanya berlaku bagi manusia, dan bahwa kebutuhan dan kepentingan manusia mempunyai nilai paling tinggi dan paling penting diantara makhluk hidup lainnya.
2.      Biosentrisme
Biosentrisme merupakan suatu paradigma yang memandang bahwa setiap kehidupan dan makhluk hidup mempunyai nilai dan berharga pada dirinya sendiri, sehinnga pantas mendapat pertimbangan dan kepedulian moral. Konsekuensimya, alam semesta adalah sebuah komunitas moral, setiap kehidupan dalam alam semesta ini, baik manusia maupun bukan manusia atau makhluk lain, sama-sama mempunyai nilai moral. Oleh karena itu, kehidupan makhluk hidup apapun pantas dipertimbangkan secara serius dalam setiap keputusan dan tindakan moral, bahkan lepas dari perimbangan untung dan rugi bai kepentingan manusia.
3.      Ekosentrisme
Ekosentrisme merupakan suatu paradigm yang lebih jauh jangkauannya. Pada ekosentrisme  memusatkan etika pada seluruh komunitas ekologis, baik yang hidup maupun yang tidak hidup. Kewajiban dan tanggung jawab moral tidak hanya dibatasi pada makhluk hidup namun juga berlaku terhadap semua realitas ekologis.

C.    Prinsip-Prinsip Etika Lingkungan
Prinsip etika lingkungan hidup dirumuskan dengan tujuan untuk dapat dipakai sebagai pegangan dan tuntutan bagi perilaku manusia dalam berhadapan dengan alam, baik perilaku terhadap alam secara langsung maupun perilaku terhadap sesama manusia yang tertentu terhadap alam.
Keraf (2005: 143-159) memberikan minimal ada sembilan prinsip dalam etika lingkungan hidup, antara lain :
1.      Sikap hormat terhadap alam atau respect for nature.
2.      Tanggung jawab atau moral responsibility for nature
3.      Solidaritas kosmis atau cosmoc solidaritary
4.      Kasih saying dan kepedulian terhadap alam atau caring for nature
5.      Tidak merugikan atau no harm, merupakan prinsip tidak merugikan alam secara ttidak perlu
6.      Prinsip hidup sederhana dan selaras dengan alam
7.      Prinsip keadilan, prinsip ini lebih ditekankan pada bagaimana manusia harusberperilaku satu terhadap yang lain dalam keterkaitan denan alam semesta dan bagaimana system social harus diatur agar berdampak positif pada kelestarian lingkunan hidup
8.      Prinsip demokarasi, prinsip ini sangat terkait dengan hakikat alam
9.      Prinsip integritas moral, terutama dimaksudkan untuk pejabat politik

D.    Perilaku Manusia terhadap Lingkungan Hidup
Perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati pihak luar (Atmaja, 2003). Sniker juga merumuskan bahwa perilaku manusia merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar, oleh karena itu perilaku terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organism termasuk manusia, dan kemudian akan merespon.
Rogers (1974) mengungkapkan terjadinya proses perilaku, bahwa sebelum seseorang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan adalah awareness (kesadaran), interest (ketertarikan), evaluation (menimbang-nimbang baik tidaknya bagi dirinya), trial ( mencoba) dan adoption (beradapsi untuk bererilaku baru dan sudah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.
Lingkungan hidup terbagi menjadi tiga yaitu lingkungan alam fisik (tanah, air, udara) dan biologis (tumbuhan, hewan), lingkungan buatan (sarana prasarana), dan lingkungan manusia (hubungan sesama manusia). Bentuk perilaku terhadap lingkungan hidup juga mencakup ketiga macam lingkungan hidup tersebut.


PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.   Etika lingkungan hidup merupakan petunjuk atau arah perilaku praktis manusia dalam mengusahakan terwujudnya moral lingkungan. Dengan etika lingkungan, kita manusia tidak saja mengimbangi hak dan kewajiban terhadap lingkungan, tetapi etika lingkungan hidup juga membatasi perilaku, tingkah laku dan upaya untuk mengendalikan berbagai kegiatan agar tetap berada dalam batas kelentingan lingkungan hidup.
2.   Paradigma adalah pandangan dasar yang dianut oleh para ahli pada kurun waktu tertentu, yang diakui kebenarannya dan didukung oleh sebagian besar komunitas, serta berpengaruh terhadap perkembangan ilmu dan kehidupan. Hubungan manusia dengan alam terbagi atas antroposentrisme, biosentrisme, dan ekosentrisme.
3.  Prinsip etika lingkungan hidup dirumuskan dengan tujuan untuk dapat dipakai sebagai pegangan dan tuntutan bagi perilaku manusia dalam berhadapan dengan alam, baik perilaku terhadap alam secara langsung maupun perilaku terhadap sesama manusia yang tertentu terhadap alam.
4.  Lingkungan hidup terbagi menjadi tiga yaitu lingkungan alam fisik (tanah, air, udara) dan biologis (tumbuhan, hewan), lingkungan buatan (sarana prasarana), dan lingkungan manusia (hubungan sesama manusia). Bentuk perilaku terhadap lingkungan hidup juga mencakup ketiga macam lingkungan hidup tersebut.

B.     Saran
Etika lingkungan hidup memberikan pelajaran kepada kita bagaimana cara kita menghormati, menggunakan dan melestarikan alam. Apabila perilaku manusia terhadap alam baik maka alam akan berlaku baik pula kepada manusia. Terjadinya bencana pada saat-saat ini merupakan ulah dari manusia sendiri yang tidak bisa menjaga alam dengan baik. Oleh karena itu, bersahabat baiklah dengan alam.

1 komentar: